Perayaan Hari Kemerdekaan
by adesena on Aug.19, 2010, under Freebies
Perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus tahun 2010 di kota kecamatan Lakbok Ciamis Jawa Barat berlangsung meriah. Walaupun bertepatan dengan bulan puasa, tapi tidak mengurangi semangat warga kecamatan Lakbok untuk memperingatinya. Alhamdulillah cuaca sangat mendukung, hari yang panas berbeda sekali dengan sejumlah daerah di Indonesia yang pada saat bersamaan mendapat hujan cukup besar.
Di Lakbok perayaan 17an tahun ini dilaksanakan dengan upacara puncak upacara pengibaran bendera merah putih. Upacara ini dilaksanakan oleh para aparat kecamatan dan desa di kecamatan Lakbok.
Tahun ini upacara di pimpin langsung oleh camat Lakbok. Pengibaran bendera dilakukan oleh paskibra dari SMUN Lakbok. Sebelum acara dimulai para peserta yang terdiri dari peserta didik dari SD/MI, SMP/ MTS dan SMU berbaris memasuki lapangan. Peserta lain yang masuk yaitu dari perwakilan desa yang datang dengan kendaraannya masing-masing. Pengikut upacara juga terdiri dari perwakilan PNS, guru, wanra, club sepeda ontel, dll. Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan drumband dari SMPN 1 Lakbok.
Sayang sekali tahun ini lomba-lomba 17an tidak dilaksanakan semeriah tahun lalu. Tapi di kecamatan Lakbok ada beberapa pertandingan olahraga yang berhasil dilaksanakan.
Dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 65. Maju terus pantang Mundur!
Selamat menikmati foto-foto liputannya.
Kujang
by adesena on Jul.11, 2010, under Freebies
Kujang – Senjata Tradisional Asal Jawa Barat
West Java – Indonesia Traditional Weapon
Salah satu senjata tradisional yang ada di pulau jawa selain keris, yaitu kujang yang asli berasal dari Jawa Barat. Menurut beberapa sumber senjata ini berasal dari kerajaan Pajajaran. Upaya untuk menghidupkan kembali kebudayaan sunda ini sudah dilakukan oleh beberapa pakar/ pandai besi. Salah satunya yang dilakukan oleh pengrajin dari daerah Tasikmalaya ini.
(untuk mendownload high resolution gambar, klik pada gambar tsb 2 x)
Kujang Pamor namanya. Yaitu kujang yang merupakan barang seni dan dipakai hiasan, upacara adat dll. Kujang ini dibuat dengan berbagai material. Untuk core/ inti kujang menggunakan baja dan nikel, sehingga ketika dicampurkan dan dibentuk kujang, akan menghasilkan motif yang sangat indah seperti motif batik.
Kujang ini juga mengadopsi bentuk Ciung 5. Ciung adalah nama burung yang sangat indah dan 5 adalah cerminan dari mata/ lubang yang terdapat dalam kujang ini.
Gagang dan sarung kujang juga dibuat sangat apik dengan bahan material kayu pilihan. Perhatikan gagang dari kujang ini. Ukiran singa yang biasanya terdapat dalam gagang kujang hanya berbentuk kepala singa, tetapi dalam ukiran ini berbentuk singa depa, yaitu singa yang sedang tengkurap. Jika gagang kujang ini anda pegang, maka akan terasa pas sekali di tangan.
Pada sarung kujang terdapat ukiran kepala singa yang sangat indah, diujung sarung terdapat ukiran kaki singa.
Secara keseluruhan kujang ini merupakan karya seni yang sangat indah. Cocok sekali dijadikan hiasan di rumah, dipakai untuk upacara adat atau dijadikan souvenir untuk para kerabat/ kenalan atau partner bisnis anda.
Berminat ? Hubungi penulis atau langsung deh penjualnya untuk mengetahui harga dan stok barangnya :
Kang Dadan Hamdani
Alamat : SPBU Al-Maksoem – Cileunyi Bandung
Tlp : 081321606889
Website : http://tokopisau.blogspot.com/
Spesifikasi Teknis :
Panjang Core/ Inti : 19,6 cm
Panjang Gagang : 12,5 cm
Panjang Inti + Gagang : 32,1 cm
Panjang Sarung/ Sarangka : 28 cm
Panjang Keseluruhan : 37 cm
Berat : 320 gram
Indonesia Puppet Show – Wayang Kulit Banyumas
by adesena on Jun.29, 2010, under Freebies
Bagi penggemar wayang golek seperti saya, tentu saja merupakan suatu pengalaman yang tak terlupakan bila menonton pertunjukan wayang kulit. Awalnya memang tak terbayang untuk bisa menikmatinya karena keterbatasan bahasa, tapi setelah 6 tahun berada di Lakbok, sebuah ibukota kecamatan yang berada di perbatasan jawa barat dan jawa tengah, lingkungan yang memakai dua bahasa daerah, yaitu bahasa sunda dan jawa perbatasan, akhirnya saya memberanikan diri untuk melihat dan mencoba menikmati suguhan tontonan tersebut.
Pertunjukan wayang kulit memang sangat jarang disajikan dan diundang oleh penyelenggara hajatan. Mungkin sekitar 90% orang hajatan mengundang organ tunggal, atau orang sini juga menyebut dengan dangdutan. Sudah terbayang bagi saya kekacauan yang mungkin timbul akibat acara dangdutan tersebut. Perkelahian yang timbul akibat gesekan antara penonton yang tak jarang juga dalam pengaruh minuman keras, menjadikan hiburan seperti ini rawan benturan. Hiburan lain yang digemari disini yaitu ebeg, atau kuda lumping atau pertunjukan layaknya debus di banten. Bila musim liburan tiba biasanya juga anak yang di khitan diarak dengan kuda keliling kampung, diiringi dengan sajian drumband.
Balik lagi ke pertunjukan wayang kulit, suatu malam bapak Sulaeman seorang tenaga medis dari kampung Baregbeg Lakbok Ciamis,vmengundang saya untuk nonton wayang kulit ini bersamanya. Pertunjukan ini dimulai pada pukul 10 malam dan akan berakhir pukul 4 dini hari. Penonton sangatlah banyak, namun sayang karena diadakan di tempat hajatan, maka penonton terpaksa memenuhi jalan raya didepan rumah si penyelenggara hajatan, sehingga bila ada kendaraan yang lewat maka harus dipandu oleh aparat keamanan untuk menyeruak kerumuman penonton. Panggung yang dibangun di depan rumah sangatlah besar. Layar yang merupakan bayangan hitam putih menghadap ke rumah siempunya hajatan, sedangkan crew wayang termasuk gamelannya semua menghadap penonton di depan rumah.
Dalangnya termasuk dalang muda, malahan belum lulus SMU katanya, tapi dia cukup lihai memainkan wayangnya, karena mungkin didikan ayahnya yang jadi dalang terkenal di daerah sini. Sindennya 7 orang, dari yang paling tua yang hafal dengan pakem tembang-tembang wayang, sampai dengan sinden muda yang gaul dengan lagu-lagu campursari. Ada yang unik dalam gamelannya, selain kumplit dengan gamelan jawa, ditambah juga dengan kendang/ gendang dari jawa barat. Sehingga membuat campuran nada yang cukup harmonis. Bagi saya yang terbiasa mendengar kendang dari jawa barat, sungguh suatu rasa bangga ketika melihat kendang sunda disajikan di pergelaran wayang kulit.
Ceritanya mirip dengan wayang golek, karena mungkin masih dari sumber yang sama, yaitu tentang lahirnya si perkasa gatot kaca. Cerita yang seru masih di pertempuran dengan para raksasa dan omelan lucu para punakawan. Untunglah saya cukup bisa mengerti sedikit bahasa jawa sini, sehingga bisa ikut terpingkal-pingkal bersama dengan para penonton lain.
Cukup kagum juga dengan inovasi di wayang kulit ini. Permainan efek lampu pada layar, kilatan cahaya laser dan hembusan dry ice, menjadikan pertunjukan ini tidaklah monoton. Inovasi lain yaitu gabungan dengan wayang kulit ini dengan campur sarian. Sehingga para sinden muda menyanyi dan menari di saat kritis, yaitu saat menonton sudah merasa ngantuk
Sayang sekali saya tak mengikuti seluruh pertunjukan ini, kareka pertunjukan diadakan di hari kerja.
Akhirnya saya pulang dengan satu tekad di hati, yaitu saya akan nonton lagi! Mudah-mudahan seni tradisional ini masih terus dapat dilestarikan.
O ya untuk teknik pemotretan di pertunjukan yang minim penerangan ini amatlah sulit. Saya terpaksa memberikan ISO yang sangat tinggi, lebih dari ISO 1000 ataupun ISO 1600 untuk memberikan cahaya yang cukup untuk menyetabilkan light meter saya. Selamat menikmati foto-fotonya, semoga terbayang apa yang terjadi pada pertunjukan wayang kulit saat itu.
Kupu-kupuku yang Lucu_2
by adesena on Jun.03, 2010, under Freebies
F-number 5.6
Exposure program Not defined
ISO speed ratings 200
Date/time original 2010:06:03 12:57:58
Exposure time 1/200 s
F-number 5.6
Exposure program Not defined
ISO speed ratings 200
Date/time original 2010:06:03 12:59:24
Exposure time 1/125 s
F-number 5.6
Exposure program Not defined
ISO speed ratings 400
Date/time original 2010:06:03 13:02:33
Exposure time 1/250 s
F-number 5.6
Exposure program Not defined
ISO speed ratings 200
Date/time original 2010:06:03 13:03:50
Kupu-kupuku yang Lucu_1
by adesena on Jun.03, 2010, under Freebies
Harus saya akui, bahwa mengambil foto kupu-kupu itu tidak mudah, terlebih ketika sang kupu-kupu sedang terbang, hinggap dari satu kembang ke kembang yang lain untuk mencari makan.
Dengan sedih hati, saya memutar mode camera saya kedalam mode otomatis, hiks. Tapi semua itu terbayarkan dengan hasil yang saya dapat.
Diambil di penangkaran kupu-kupu di daerah Cihanjuang Cimahi.
Selamat menikmati…..
Exposure time 1/40 s
F-number 5.6
Exposure program Not defined
ISO speed ratings 400
Date/time original 2010:06:03 12:41:30
Exposure time 1/160 s
F-number 5.6
Exposure program Not defined
ISO speed ratings 200
Date/time original 2010:06:03 12:42:52
Exposure time 1/200 s
F-number 5.6
Exposure program Not defined
ISO speed ratings 200
Date/time original 2010:06:03 12:43:39
Exposure time 1/100 s
F-number 5.6
Exposure program Not defined
ISO speed ratings 400
Date/time original 2010:06:03 12:57:21




























Exposure time 1/160 s